Tue. May 28th, 2024
    Tentang DuniaTentang Dunia

    Bagaimana jika  tentang dunia membawa kita merasa diasingkan dan disingkirkan. Tak mampu melangkah di belakang orang yang harusnya menjadi sandaran. Berikut karya sastra tentang dunia, waktu, dan pilihan-pilihan menjadi manusia.

    Tentang Dunia

    Ketika kita ada di barisan depan mengelu-elu kan kejujuran sekejap kita menjadi  musuh atau kaum yang dibenci. Seseorang yang akan digarisbawahi merujuk untuk disingkirkan diasingkan atau dibuat membisu.

    Kejujuran itu sadis. Kata mereka membuka tabir kebenaran yang pahit. Kata siapa menjadi benar itu enak kadang jadi benar itu mengerikan dincam  dan dianiaya atau berujung pada penghilangan seseorang secara paksa kematian.

    Dunia Manusia 

    Manusia terasa semakin banyak, bumi dipijak milyaran manusia dan sebagian kecil makhluk lain hewan tumbuhan yang mungkin teraniaya oleh keserakahan manusia. Manusia berwujuad abu-abu, ada yang baik dan ada yang buruk. Sebagai Manusia juga sadar kadang saling menyakiti. Untuk uang menjadi kuasa semata kadang untuk bertahan hidup.

    Oh manusia yang ada di dunia, melakukan intrik, manipulasi, segala kejahatan atau segala kebaikan. Kadang menenggelamkan kejuuran dan kebenaran yang kian hari menjadi kian mahal nilainya. Semuanya hanya permainan gelak tawa kemunafikan karena ini dunia.

    Tentang Dunia Babak 2

    Akar yang tumbuh di semak semak, setititk embun yang menghiasi padi di pagi hari. Pohon pohon hijau yang berderet. Langit biru yang membentang, gelombang laut, gemerlap bintang di malam hari, aurora borealis yang menawan hati, puncak gunung rinjani. Lalu, kenapa kita tak bahagia.

    Bunga krisan itu sudah tumbuh kembali begitupun dengan bunga hias lainnya, kenapa kau tak tersenyum. Atau engkau sedang bertafakur memikirkan penciptaan, semesta dan isinya.

    Aku melangkah dibelakangmu dan kadang kau berusaha kuat atau memang terpaksa kuat. Padahal kutahu manusia begitu lemah. Maka kemukakanlah maka bersimpuhlah 5 waktu, menangislah dan ketika tak kusadari kepedihan itu menguatkan.

    Hidup yang harus kujalani seperti gunung yang harus kudaki. Lautan yang harus kusebrangi berliku di bukit terjal dan kadang beresiko. Tetapi hidup itu indah. Maka kulihat hujan di pagi hari ada bahagia. Kulihat sawah hijau membentang dengan hembusan angina semilir kubahagia dan awan putih yang membumbung menyerupai domba di langit biru kubahagia.

    Maka kurasa pedih akan hilang, walau akan datang kembali. Biarlah kuingat matahari terbit dan tenggelam bersaa derasnya hujan membasahi hutan dan megahnya karpet hijau dunia yang membentang luas.

    Kabut cinta, 14 mei 2020

    Ini bukan roman picisan. Dunia dewasa kadang membuatku menakutkan. Bukan pula persoalan cinta suka sama suka. Tetapi setelah menyelaminya hanya sisa penyesalan dan tanggung jawab.Kalaulah  cinta menyatukan mungkin ada benarnya atau sebaliknya tidak ada benarnya. Kadang bahagia, kadang susah, kadang ceria, kadang dirundung durjana.

    Semuanya berpaku pada mindset. Mau dibawa ke jurang ataukah ke haribaan yang indah. Kekacauan ini sudah kulalui berpuluh tahun dan aku tak menemukan pengertian di dalamnya. Aku tak mengerti. Selama ini apa itu cinta. Yang kurasa hanya luka tak terlihat dan kusembunyikan dalam dalam di berangkas ku yang tak seorangpun tahu apa paswordnya.

    Kupikir yang tak sempurna itu cinta, tetapi ternyata pelakunya lebih membahayakan. Orang itu kadang seperti setan dan malaikat. Walau tidak sempurna aku yakinkan dalam hati ini hanya kelakar dunia. Dunia menertawakanku atau aku yang terjun sendiri pelan pelan membunuh diri. Dan itu yang trjadi pelan pelan aku masuk jurang yang sama tak putih dan tak hitam.

    Ramina

    Kerinduan pada teman yang berpulang dan pergi dengan membawa tanya untukku. Secepat itu tanpa ada firasat. Membuat yang ditinggalkan serasa disambar petir. Hari itu pagi kabar duka yang tak kusangka datang menyelimuti pagi menjadi berkabut.

    Semua adalah kehendaknya kita pun akan menyusul dan menjadi calon calon jenazah. Karena tahu yang bernyawa akan binasa namun kengerian kapan dan dengan cara apa kita pergi meninggalkan dunia yang fana ini.

    Dua musim di tahun ini membawa banyak jenazah ke pekuburan menaburkan bunga di pemakaman. Pandemi yang belum berujung merontokan manusia mengurangi timbangan bumi membuka kesakitan bagi manusia membuka awan bersih untuk dunia. Membawa duka bagi manusia. Membawa bahagia untuk bumi. Siapa yang harus disalahkan.

    Pilihanmu

    Keluarga yang sejuk. Bersyukur melahirkan dua insan raka dan rayi. Gelak tawa, anak yang cerdas jadi kebanggan. Suami yang pergi bekerja mengasah nasib melupakan penat. Istri yang membantu memperjuangkan pendidikan anak. Melawan rasa bosan, jenuh dan lelah.

    Anak yang berbakti bersungguh-sungguh belajar dan mendapatkan cita. Namun apalagi ini, semuanya dimatamu kurang. Di dalam diam dan sabarmu, di kedalaman senyum palsumu dan tak pernah satu kalimatpun kau membuatku sedih atau pilu. Semua seperti biasa. Namun kurasa ada yang salah. Firasat ini tampak tak nyata tetapi ada. Aku tahu ada yang tdk beres ternyata selalu ada yang kau rindukan tapi bukan aku.

    Waktu Kritis

    Telah kau patahkan semangatku sedari kecil. Aku dibunuh sedari orol dan jiwaku hilang. Mauku hilang. Aku menjalani apa yang ada. Tetapi tak tahu arah mau kemana. Agama mengajarkanku menghormatimu dan menyayangimu. Namun semua kontra.

    Kau memberiku julukan itik buruk rupa dan tdk mengindahkankku. Sedangkan saudariku kau jadikan itik dengan mahkota emas. Tak apa bila kecondonganmu untuk yang namanya cinta berat ke sebelah kanan. Tetapi tidak untukku. Aku lemas, kemauanku lemah, visi misiku jadi makin buram dan ketika banyak pertanyaan dalam benaku sekitarku tak memberi respon yang baik. Aku cari keluar dengan membuat hubungan sosial dg dunia luar. Ya aku senang, ada komik, PS, majalah dewasa dan informasi yang belum sempat dikonfirmasi.

    Aku tetap sendiri dalam hampa dan tidak banyak orang tahu, begitu kesepian dan terluka. Seperti orang buta tak tahu arah seperti orang tuli tak bisa berkata apa apa. Sampai dengan pada titik puncak amarahku yang membuncah. Tetapi percuma, aku kembali dalam kepasrahan.

    Artikel menarik lainnya: Mendirikan Taman Baca Masyarakat Ciherang untuk Anak-Anak Di Tanah Bencana

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *