Kabar Komunitas

Komunitas Literasi Bisa Dilibatkan dalam Pembelajaran dari Rumah yang Tidak Dilirik Oleh Kemendikbud

Komunitas literasi bisa dilibatkan dalam masa Pandemi COVID-19 yang bikin kegamangan dalam proses pembelajaran jarak jauh dari rumah. Faktanya tidak semua sekolah dapat melakukan kegiatan belajar secara online. Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun menyebutkan hanya sepuluh persen sekolah yang sudah memodifikasi metode pembelajarannya. Caranya dilakukan antara tatap muka dan online menggunakan platform e-learning. Sebagian besar terpaksa menggunakan metode konvensional, dari mendatangi siswa, terpaksa tetap meminta anak didik ke sekolah, dan ada pula yang mencoba memanfaatkan radio komunitas.

Sehingga, guru dan orang tua diharapkan bisa bekerjasama agar kegiatan belajar di rumah dapat terus berjalan. Namun ada yang lupa dilrik oleh oleh Kemendikbud, yaitu pelibatan komunitas literasi yang selama ini eksis mendukung dunia pendidikan, terutama di berbagai daerah pelosok di Indonesia. Contohnya, komunitas yang bersedia membuat taman baca (perpustakaan warga) dan membantu penyediaan alat sekolah.

Bukan rahasia lagi kalau sekolah pelosok itu sering tidak diperhatikan. Banyak kendalanya, dari soal infrastruktur, dukungan sarana, hingga akses belajar yang sulit. Komunitas literasi di berbagai daerah biasanya mau mendatangi sekolah di pelosok. Mereka melihat langsung kondisi fasilitas pendidikan di pedalaman dibandingkan Dinas Pendidikan dan aparat pemerintah di daerah.

Pembelajaran dari Rumah dan Keterlibatan Komunitas Literasi untuk Mendukung Pendidikan di Daerah Pelosok Indonesia

Tawa Bersama Anak-Anak Lengkong Daerah Pelosok Sukabumi
Tawa Bersama Anak-Anak Lengkong Daerah Pelosok Sukabumi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memetakan pembelajaran di sekolah yang dibagi dalam 3 kelompok besar, sebagai berikut.

  1. Anak-anak yang sudah bisa terlibat pembelajaran online. Sekolah sudah menerapkannya secara penuh, sehingga tidak akan merasa kesulitan menghadapi pembelajaran jarak jauh. Para siswa sering mengakses aplikasi pembelajaran.
  2. Sekolah melakukan pembelajaran semi daring. Tugas sekolah diberikan oleh guru kepada siswa melalui Whatsapp. Guru dan siswa tidak berinteraksi secara langsung.
  3. Anak-anak yang tidak bisa melakukan pembelajaran secara online, baik itu menggunakan aplikasi maupun melalui pesan whatsApp. Mereka mengalami keterbatasan dari segi infrastruktur dan daya dukung teknologi. Anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah pelosok mengalami kendala tidak punya akses internet, listrik, TV. Sehingga, guru terpaksa datang rumah ke rumah atau meminta siswa datang ke sekolah beberapa hari sekali.

Jadi, nasib anak-anak di pelosok selalu tertinggal. Kalau dulu masalahnya sekitar bangunan dan sarana pendidikan, memasuki masa pandemi COVID-19 terhambat karena keterbatasan infrastruktur teknologi, jaringan internet dan listrik. Menteri Nadiem Makarim mungkin terhenyak ketika ingin mencoba dukungan teknologi dalam proses pembelajaran. Nyatanya, sebagian besar sekolah yang berada di pelosok mendapatkan sinyal internet saja sulit. Bagaimana mau belajar online seperti yang didengungkan Mas Menteri.

Kalau sudah begitu, pemerintah selayaknya melihat cara lain untuk mendukung pendidikan di daerah pelosok. Salah satunya melibatkan komunitas di daerah. Gunakan jaringan komunitas literasi yang selama ini terlibat mendirikan perpustakaan, kerjasama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan lainnya. Kalau semua pihak dilibatkan, maka tenaga pendukung untuk kegiatan pembelajaran semakin kuat. Peran pendidikan tidak hanya seputar diantara guru, orangtua, dan siswa, namun juga komunitas-komunitas literasi. Mereka yang rela meluangkan waktu memberikan dukungan bagi anak-anak, terutama di daerah pelosok.

Komunitas Literasi Bisa Dilibatkan Mendukung Pendidikan di Indonesia

Selama ini komunitas literasi bergerak mandiri dan sering melihat persoalan pendidikan di pelosok. Tak jarang menemukan sekolah yang hampir rubuh. Ketika masalah sekolah rubuh itu diangkat komunitas, barulah pihak dinas pendidikan tergopoh-gopoh mengatasi permasalahan. Kalau tidak ya dibiarkan saja anak didik belajar dengan fasilitas skeolah apa adanya.

Kalau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mau melakukan perubahan mendasar pendidikan di Indonesia. Ajak komunitas literasi terlibat dan jangan biarkan mereka bergerak sendiri-sendiri. Padahal, tenaga mereka terbukti sering terlibat memberi dukungan pendidikan di daerah pelosok. Seperti yang dilakukan Sabumi Volunteer selama ini. Bergerak dalam senyap mendirikan taman baca di pelosok Sukabumi.

Komunitas literasi bisa menjadi bagian dari satuan pendidikan dan berpartisipasi aktif membangun pendidikan nasional. Tinggal kemauan Kemendikbud merangkul komunitas literasi yang selama ini sudah bergerak di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga: Beranikah Anda Keluar Zona Nyaman Seperti yang Dilakukan Relawan Literasi Sabumi Volunteer?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *