Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Kabar Komunitas

Doa Penyemangat Mak Kesah : Perjalanan Cahaya Pelosok Sukabumi Membuat Rumah Gelap itu Menjadi Terang Kembali

Doa penyemangat Mak Kesah tak henti hentinya keluar dari mulutnya. Beliau berterima kasih rumahnya sudah menjadi terang kembali. Setelah pembelian pertama solar panel yang entah dari siapa dan menikmati terang selama beberapa tahun, lampu itu padam. Dunia malam menjadi gelap bersama alam. Solar panel mengalami kerusakan komponen tertentu.

Apesnya pengetahuan tentang tentang solar panel juga kurang sekali. Jadilah rumah tinggalnya gelap kembali. HIngga, tim perjalanan cahaya datang untuk memberi sedikit bantuan, supaya kediamannya kembali tersinari cahaya lampu listrik DC.

Semua rumah di Sukasirna sudah pasang Surya panel. Dari 18 rumah, hanya satu yang mati total, yaitu rumah Mak Kesah Tadi.  Langkah Perjalanan cahaya pertama kali ini adalah membantu rumah Mak Kesah supaya nyala kembali. Tim memasang tujuh Lampu penerangan jalan umum bertenaga surya juga.

Pun begitu ilmu ilmu yang masih sedikit ini diharapkan bisa membantu pengetahuan para penduduk kampung. Nantinya, kegiatan kedua diharapkan bisa memaksimalkan 17 panel Surya yang lainnya. *Semoga jadwal bisa secepatnya.

Doa Penyemangat Mak Kesah itu Datang dari Sukasirna Sebuah Pemukiman di Puncak Bukit

Kondisi Pemukiman Sukasirna Pelosok Sukabumi
Kondisi Pemukiman Sukasirna Pelosok Sukabumi

Sukasirna berada di sebuah puncak bukit. Kami harus jalan kaki selama satu jam dari kampung sebelumnya, Seulaeurih namanya. Jalan menuju ke Seulaeurih pun begitu sulitnya. Apalagi ketika musim hujan. Dulunya, Sukasirna hanya sebuah Hutan.

Pada tahun 1985, berumah menjadi pemukiman untuk para penduduk kampung lain yang relokasi/ pindah karena wilayahnya selalu diterjang banjir. Sampai tahun 2021 ini , listrik belum masuk kesana. Jumlah rumahnya 18 bangunan plus 1 musholla.

Pola pemukimannya berbanjar-berbaris saling berhadapan seperti di perumahan-Cluster atau residence. Semua penduduknya bekerja di Sawah dan Ladang. Hasil panen padi digunakan untuk konsumsi masing masing.

Sedangkan tanaman Palawija dijual untuk pemenuhan kebutuhan lain seperti Bumbu dapur, lauk pauk atau buat kesehatan dan pendidikan.  Sebagian ibu ibunya mengolah Air sadapan di pohon Kelapa menjadi Gula merah buat Industri. Dari bocorannya sih untuk bahan tambahan produksi Kecap.

Anak sekolahnya ada 9 orang dan beberapa balita serta pemuda putus sekolah dan melanjutkan kehidupannya membantu orangtuanya.  Yang begitu urgent disana adalah sarana Sanitasi atauMCK. Begitu kami tanya ke penduduk : ” Kemana kalau Ibu ” kaberatan” – BAB ?”. Jawabannya adalah  Ya lari ke bawah atau kebun dan gali tanah.

Terima kasih pada sukwan : Achmad Saripan, Gugunk De Sunday, Imunk, Ujang Bent’ar, Wawan Obonz, Muh Vizar, Fahmi Reza Fauzi, Budy Setiawan, Achmad Arief Budiman, temennya Ujang. Eddy Setiawan.

CC:  Adhiyara Leitz, Juragan Naufal, Pitra Ariadna, Raden Mohamad Sahluvi, Abdul Adha Sati.

Ditulis oleh: Rama Bargawa.

#perjalanancahaya #sukasirna

Baca juga: Upaya Sekuat Tenaga Membangun Ruang Kelas Baru Demi Anak-Anak Sekolah Gratis Cerdikia Al-Insani Sukabumi

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close