Bukan Soal Atlit Memakai Jilbab, Namun Pemahaman Aturan Demi Keselamatan Selama Pertandingan

Miftahul Jannah Atlit Memakai Jilbab dari Cabor Judo

Namanya Miftahul Jannah, dialah Atlit Memakai Jilbab yang telah didiskualifikasi dari pertandingan blind judo. Perkaranya bukan karena sang atlit memakai memakai jilbab, tetapi karena peraturan perwasitan Federasi Judo Internasional (IJF).

Pada artikel empat poin empat memuat aturan salah satunya, “Kepala tidak boleh ditutupi kecuali untuk pembalutan yang bersifat medis, yang harus mematuhi aturan kerapian kepala.”

Pendukung Indonesia boleh saja kecewa atas batal tandingnya sang atlit, karena secara prinsip dia tidak mau melepas jilbab. Namun pihak pelatih maupun atlit harus memahami aturan tersebut demi keselamatan selama pertandingan yang ditakutkan penggunaan jilbab dimanfaatkan lawan untuk mencekik leher dan sangat berbahaya bagi para atlit. Carilah di internet bagaimana teknik judo yang sebagain gerakannya menarik baju untuk menjatuhkan sang lawan.

Baca juga : Ikut Permainan Tradisional Gobak Sodor Yuk…

Sekali Lagi Persoalannya bukan Larangan Atlit Memakai Jilbab

Jadi begini para pembaca yang budiman, aturan tersebut juga diadopsi oleh Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA). Gagalnya Miftahul Jannah bertanding membuat Senny Marbun, Ketua National Paralympic Committee (NPC) meminta maaf.

Persoalan tersebut tentu harus dipertanyakan kenapa pihak pelatih tidak menjelaskan aturan tersebut kepada atlit sebelum menjadi andalan satu-satunya atlit perempuan blind judo nomor -52 kg kategori low vision asal Indonesia.

Perkara atlit memakai jilbab batal bertanding menjadi viral. Banyak pihak yang memuji keteguhan sang atlit dengan teguh memakai jilbab. Tetapi sekali lagi persoalannya bukan semata tentang jilbab. Namun, pengetahuan tim pelatih dan atlit tentang aturan yang berlaku pada pertandingan blind judo tersebut.

Atlit batal bertandingan. Seluruh persiapan menjadi percuma. Kita tentu bangga dengan keterlibatan Miftah pada even Asian Para Games 2018. Namun, pelajaran harus dipetik bahwa atlit harus tahu aturan dalam sebuah pertandingan. Kalau jadi didiskualifikasi begini kan kasihan atlitnya.

Mengenai Peraturan dalam Pertandingan yang Tidak Dipahami

Pihak Komite Paralimpiade Indonesia sudah memberi penjelasan bahwa tidak ada diskriminasi soal aturan penggunaan jilbab. Penjelasan yang harus dicatat dan membuat kita heran adalah peraturan yang dijelaskan dalam technical meeting tidak dimengerti dengan baik oleh pelatih. Apa sebabnya? Aturan pertandingan dijelaskan dalam bahasa inggris. Olala… Kalau begini wajar ketua NPC meminta maaf.

Sayang disayang nasi sudah menjadi bubur. Di event besar se Asia tersebut, masih ada keteledoran mengenai aturan yang tidak dimengerti oleh sang pelatih. Hal yang harus dipertanyakan juga, masa sih pihak NPC tidak menjelaskan aturan yang berlaku dalam pertandingan blind judo kepada pelatih dan atlit jauh-jauh hari.

Baca juga : Potret Kegiatan Relawan Literasi Sukabumi Sabumi Volunteer

Masalah ini tidak bisa dianggap sepele. Karena membuat Indonesia kehilangan satu kesempatan memperoleh medali. Potensi dari atlit gugur karena ketidakpahaman mengenai aturan.

Nah, kepada para pendukung dan netizen Indonesia, perhatikan dulu duduk perkara mengenai penggunaan jilbab. Agar masalah mendasar yang diangkat bukan masalah larangan memakai jilbab. Namun ketidakpahaman pelatih, dampaknya atlit juga tidak mengerti aturan yang berlaku. Semoga kejadian ini tak terulang kepada atilit lain.

Tetap semangat Atlit Asian Para Games 2018 dari Indonesia. Kami yakin kalian akan melakukan yang terbaik untuk negeri ini.

2 thoughts on “Bukan Soal Atlit Memakai Jilbab, Namun Pemahaman Aturan Demi Keselamatan Selama Pertandingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.