Ali Imran Mantan Teroris Mengingatkan Jangan Berkomentar Dukung Terorisme

berkomentar dukung terorisme

Dari Acara Indonesia Lawyer Club, Ali Imran, mantan teroris mengingatkan jangan berkomentar Dukung Terorisme. Dia memberi pesan tidak perlu memberi pernyataan tidak penting, misalnya terorisme akibat sikap Densus 88. Termasuk bagi netizen yang berkomentar kalau terorisme yang sedang terjadi adalah rekayasa dan konspirasi yang digunakan untuk pengalihan isu. Komentar tersebut membuat teroris merasa diberikan dukungan.

Penekanan dari sang mantan teroris sangat jelas untuk tidak memberikan Analisa yang tidak penting. Karena hal tersebut justu meningkatkan semangat penyerangan dari aksi terorisme. Secara tidak langsung, komentar di media sosial memberi kesempatan dan angin segar untuk melakukan serangan selanjutnya.

Bukan rahasia lagi, ada banyak komentar yang justru menyalahkan pemerintah dan menjurus membela tindakan yang teroris lakukan. Setelah serangan terorisme Surabaya, polisi melakukan pemeriksaan pun dicemooh. Seolah mereka yang berkomentar tidak sadar kalau bom yang meledak sudah mengorbankan begitu banyak nyawa manusia.

Baca juga : Jangan Membagi Foto Viral Bom Surabaya!

Berkomentar Dukung Terorisme Membahayakan Kita Semua

Tidak berhenti dari kasus di Surabaya dan Sidoarjo, serangan teroris dilakukan juga ke Mapolda Riau. Lagi lagi serangan tersebut membunuh 1 orang polisi. Jadi rentetan kejadian terorisme tidak berhenti pada satu wilayah saja. Apalagi ada banyak pelaku teror yang sudah ditembak mati dan ditangkap oleh polisi.

Kondisi kasus terorisme yang terjadi harus dikhawatirkan karena pelaku terror berada di berbagai daerah di Indonesia. Dari pemaparan Ali Imran yang terlibat dalam serangan Bom Bali 1, dia memberikan gambaran kalau serangan terakhir dengan merupakan jaringan ISIS yang memiliki pemahaman aqidah takfiri dengan pemahaman yang mudah menghalalkan dari manusia.

Orang yang dinilai tidak satu aqidah akan diharamkan dan menjadi target serangan. Pemahaman dari pelaku terorisme dari jaringan ISIS mencari pembenaran untuk mengkafirkan orang yang berada di luar kelompok.

Lalu kenapa polisi menjadi sasaran serangan? Pertama, Ada keyakinan bahwa polisi sering menyakiti masyarakat. Kalau polisi diserang, maka masyarakat diam saja dan tidak akan membela pihak kepolisian. Kedua, Mereka juga memanfaatkan momentum untuk membalas dendam dari penangkapan terorisme lainnya. Prioritas pertama untuk diserang oleh pelaku teror tentu saja polisi.

Nah, kedua alasan tersebut dipertegas lagi dengan komentar-komentar banyak masyarakat yang justru membela aksi teror. Seperti penjelasan sebelumnya, maka para pelaku yang melakukan terorisme akan merasa memperoleh dukungan sebagai pembenaran terhadap tindakan keji mereka.

Baca juga : Melancong ke Tempat Wisata Danau Toba Sini Saja!

Hentikan Berkomentar Dukung Terorisme dan Bersatu Melawan Terorisme

Pesan yang disampaikan dalam acara Indonesian Lawyer Club sangat jelas memberi pesan hentikan berkomentar dukung terorisme. Serangan demi serangan dari gerakan terorisme tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. Pihak kepolisian tidak mampu bergerak sendiri.

Terorisme dapat dicegah dan dilawan dengan dukungan semua pihak, baik dari kepolisian, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat umum. Ali Imran mengisyaratkan kita bisa mencegah semangat teror dari pelakunya dengan menghentikan berkomentar dukung terorisme. Karena hanya akan menyulut serangan terorisme berikutnya. Ingat serangannya pun telah melibatkan dan membunuh anak-anak di Surabaya.

Bangkitkan empati kita terhadap korban dari serangan bom yang telah terjadi. Tindakan terorisme sungguh bertujuan jauh dari yang kita perkirakan. Sulit pula untuk memahami siapa mereka, tujuan dari gerakan mereka, dan siapa yang mereka lawan sebenarnya.

One thought on “Ali Imran Mantan Teroris Mengingatkan Jangan Berkomentar Dukung Terorisme”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.