Sun. Apr 14th, 2024
    Bapak yang kelaparan di warung martabakBapak yang kelaparan di warung martabak

    Dia mondar-mandir kalau dihitung ada lebih dari tujuh kali, seorang bapak yang kelaparan di warung martabak Bangka mengelus-elus perutnya. Berkali-kali dia melihat martabak dan kue pukis yang siap dibungkus di etalase.

    Saya yakin orang lain juga melihat bapak tersebut berdiri menatap kue yang khas dengan rasa manisnya tersebut. Malam itu, ada setidaknya 10 orang mengantri di dalam warung martabak tersebut. Mereka yang di dalam siap membeli dengan uangnya, sedangkan bapak yang diluar hanya bisa menatap nanar sambil menahan lapar.

    Empati Terhadap Seorang Bapak yang Kelaparan di Warung Martabak

    Sejujurnya, perasaan langsung tidak tega melihatnya berkali-kali hilir mudik di depan warung martabak tersebut. Hati kecil seperti berkata, dia pasti sedang kelaparan.

    Raut wajahnya yang muram, kotor dan tanpa senyum menguatkan perasaan tersebut. Dari kaki hingga ujung rambutnya, bapak yang kelaparan di warung martabak tersebut tampak sangat lusuh. Bajunya persis kain yang tak layak pakai persis kain pel saja, sangat dekil, Anda pasti tak mau mengenakannya lagi.

    Namun, dari gelagatnya, tidak tampak seperti orang gila. Dia waras. Seorang tunawisma yang hidup mengampar di pinggir jalan. Orang-orang tidak punya rumah, hidup terlantar, dan tanpa keluarga. Dari dalam warung martabak, saya berjalan ke luar. Saya terus memperhatikannya berkali-kali. Bersamaan itu pula, dia terus memperhatikan martabak dan kue pukis.

    Karena rasa iba semakin memuncak, maka saya bilang ke istri untuk membeli beberapa kue pukis untuk bapak tersebut. Siapa yang sanggup menahan lapar. Untuk itulah kue pukis harus diberikan kepadanya. Selesai martabak dan kue pukis yang kami dibungkus. Kami berikan kue pukis “jatah” si bapak yang kelaparan di warung martabak tersebut.

    Dugaan saya benar dia tidak gila. Ketika kue pukis sudah ditangannya, serta merta dia mengucapkan terima kasih. “Nuhun Pak,” katanya sambil memberikan senyum ya lebar. Tak lama duduk di sebelah warung dan menyantap kue tersebut. Mau tau caranya memakannya, seperti orang kelaparan yang tidak makan seharian. Saya memperhatikannya sebelum pergi kembali ke rumah.

    Kemiskinan di Sekitar Kita dan wajah-Wajah Orang Kelaparan

    Dari kejadian tersebut, saya semakin menyadari kondisi kemiskinan beragam pola dan bentuknya. Ada yang miskin masih bisa makan seharian dan ada yang kesusahan namun masih bisa menyekolahkan anaknya. Sedangkan, ada pula orang tidak mampu terpaksa menjadi tunawisma hidup dijalanan dan kelaparan. Ragam ciri kemiskinan adalah fakta yang bisa dilihat sehari-hari.

    Masalahnya kalau melihat orang kelaparan tidak sedikit yang acuh. Bukan membantu dan malah membiarkan saja. Seolah tidak ada yang mengkhawatirkan. Setidaknya membangun kepedulian, memberi sedikit yang kita punya. Kalau ada uang atau bisa memberi kue atau makanan lainnya bisa diberikan kepada orang yang lapar.

    Ada banyak orang yang sangkin miskin dan susahnya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk makan sekali sehari saja mereka bingung caranya dan tidak berani minta pertolongan kepada orang lain. Kalau sudah begitu, waktunya kita meningkatkan empati kepada orang miskin atau kurang mampu.

    Baca juga: Pasar Tradisional Rentan Positif COVID-19, Begini Tips Aktivitas Kebiasaan Baru Belanja Dari Dokter Raise

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *