Pesantren Positif COVID-19 Menghentikan Pembelajaran di Pesantren Husnul Khotimah Kuningan

Pesantren Positif COVID-19 Menghentikan Pembelajaran di Pesantren Husnul Khotimah Kuningan

Pesantren Positif COVID-19 membuat Proses belajar tatap muka terpaksa dihentikan. Ditemukan 56 santri tertular virus corona di pondok pesantren Husnul Khotimah, Kabupaten Kuningan. Wakil Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum telah bermusyawarah dengan pengelola untuk menghentikan sementara Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Para pemimpin ponpes pun sepakat melakukannya demi kesehatan para santri.

Temuan kasus positif tersebut setelah para santri Ponpes Husnul Khotimah uji usap (swab test) metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Dari 56 orang tersebut, 10 orang telah dinyatakan sembuh dan 46 lainnya harus melakukan karantina di asrama ponpes.

Tidak lupa, Wagub Jabar yang bertindak sebagai Wakil Ketua satuan tugas COVID Jawa Barat mengucapkan terima kasih kepada pihak ponpes. Sehingga, dapat dilaksanakan upaya untuk memutus penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Beliau menyatakan bersyukur bahwa sesepuh pesantren bisa menangkap arah keinginan pemerintah. Jadi tercipta kesepakatan antara pengurus dan pimpinan pondok pesantren untuk tidak belajar tatap muka sementara waktu.

Pemerintah Jawa Barat Akan Membantu Swab Test COVID – 19 Setelah Kasus Positif di Pesantren Khusnul Khotimah Kuningan

Pemerintah Jawa Barat berjanji melakukan langkah selanjutnya akan ada swab, dan tahap-tahap lainnya sesuai ketentuan yang disepakati. Pemda Jabar akan memberikan bantuan 5.000 peralatan swab test kepada Ponpes Husnul Khotimah. Sehingga, dapat dilakukan tes masif terhadap seluruh penghuni pesantren dan warga sekitar. Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah santrinya sekitar 4.000 dan para pengurus 600, dan warga sekitar.

Sebagai perwakian pemerintah, Wagub yang Akrab dipanggil Kang UU berharap kasus COVID-19 tidak terjadi lagi di seluruh ponpes di Jabar. Beliau mengingatkan pengelola ponpes untuk terus memperketat penerapan protokol kesehatan. Setiap penghuni pesantren diminta untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun, di lingkungan ponpes.

Tidka hanya itu, Kang Uu memberi arahan agar para pemimpin dan pengelola ponpes melakukan koordinasi berkoordinasi dengan Gugus Tugas setempat. Apabila terjadi  gejala penularan COVID-19. Bagaimanapun keterbukaan informasi dari ponpes sangat penting untuk antisipasi penyebaran kasus. Pemerintah terus memberikan imbauan agar pengelola pondok pesantren memaksimalkan protokol kesehatan.

Pihak pengelola pesantren dapat segera melaporkan kepada Gugus Tugas apabila terdapat kasus COVID-19 dan bukan malah ditutup-tutupi. Tujuannya agar virus corona tidak semakin menyebar dan segera diantisipasi dengan sigap.

Informasi lainnya: Untuk Najwa Shihab yang Getol Mencari Menteri Kesehatan, Terawan Selalu Hadir Tetapi Bukan untuk Anda

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *