Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Indonesian Corner

Bu Risma Blusukan Malah Dinyinyiri Membuktikan Mudahnya Berkomentar dan Mencibiri Orang Bekerja

Bu Risma blusukan setelah menjadi menteri sosial ditanggapi beberapa orang dari bilang lebay, pencitraan, hingga menyebut bukan tugas menteri. Padahal, sosok Tri Rismaharini bisa menjadi pejabat yang kerja enggak tanggung-tanggung. Berani kerja sampai ke kolong jembatan, mengatur lalu lintas, hingga berkomunikasi langsung dengan para pemulung.

Apa daya tindak-tanduk Bu Risma mantan Walikota Solo dicap negatif. Seperti kata Fadli Zon kalau kecanduan blusukan jangan-jangan bu Risma Gila pencitraan. Padahal tidak apa-apa toh, itu bukti bu mensos yang baru ingin melihat fakta dari lapangan. Daripada kerja enggak kelihatan, ngomong melulu, dan cuma bisa mengomentari pekerjaan orang lain.

Mantan Anggota DPR Fahri Hamzah ternyata ikut gatal ingin berkomentar dan berceloteh di akun twitternya. Begini katanya, “Kemiskinan itu bukan di jakarta tapi di daerah terpencil sana. Itu rakyat bunuh diri, bunuh keluarga, ada ibu bunuh 3 anaknya karena mlarat.”

Tidak ada yang salah memotret wajah kemiskinan ibukota. Justru membuat orang tahu kalau pemulung, pengemis, dan orang terlantar lainnya mewarnai kehidupan sehari-hari di DKI Jakarta. Malah terasa aneh kalau pejabat DKI mengaku tidak pernah melihat pengemis di Sudirman-Thamrin, sementara bu Risma malah berhasil mengajak mereka berbicara.

Kemiskinan di ibukota itu nyata banyak orang dari penjuru Indonesia pergi mengadu nasib di Jakarta.  Tidak semua orang bernasib beruntung. Sebagian orang-orang itu tidak tidak mampu mengontrak rumah, berpenghasilan sangat rendah, hingga terpaksa hidup di jalanan dan kolong jembatan.

Bu Risma Blusukan Sebagai Bukti Bukan Janji-Janji Manis Semata Peduli Orang Miskin

Menteri Sosial Tri Rismaharini (Risma) tidak melepaskan gaya bekerjanya seperti menjad Walikota Surabaya. Bu Risma tetap seperti sosok seperti sebelumnya yang kerap turun ke jalan dan menunjukkan selalu hadir kalau ada program Pemerintah.

Setelah menjadi mensos yang baru, pekerjaan beliau langsung menjadi sorotan. Tidak seperti Mensos sebelumnya yang hadir kalau ada penyaluran bantuan dan malah menjadi tersangka korupsi bansos. Bu Risma mulai getol blusukan dan mengajak para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) agar tidak hidup di jalan malah mendapat cibiran.

Padahal kalau berpikir positif, langkah bu mensos bisa saja tujuannya memang demi memetakan masalah sosial. Tapi bagaimana lagi para pejabat lebih suka nyinyir ketika beliau berhasil menemukan gelandangan dan pemulung di kawasan Sudirman-Thamrin dan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Andaikan hasil blusukan Bu Risma bisa menjadi rujukan program kerjanya dan diikuti perencanaan kerja staf bawahannya di Kemensos. Masalah kemiskinan bisa tertangani. Apalagi kalau konsep pemberdayaan dengan melibatkan orang miskin benar-benar bisa diwujudkan Mensos dari Presiden Jokowi ini bisa terlaksana. Bukan tidak mungkin menjadi harapan kaum yang kurang sejahtera tersebut tidak selamanya diberi bantuan terus menerus.

Negeri ini butuh Menteri yang mau bekerja. Orang yang mau melakukan tugas sesuai sumpahnya. Bukan janji-janji dan malah kebanyakan mengomentari pekerjaan orang lain. Kalau Bu Risma mau bekerja lebih berat dan tidak korupsi seperti mensos sebelumnya kenapa tidak diberi kesempatan. Bukannya dicibiri, dijatuhkan, dan dibuat seolah-olah apa yang dikerjakannya selalu salah.

Artikel menarik lainnya: Belajar di Sekolah Tidak Diwajibkan, Tetapi Dibolehkan Tetap Mengacu SKB 4 Menteri

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close