Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Ilmu Kehidupan

Kegelisahan Alissa Wahid dari Kasus Pemakaman Warga Katolik Yogyakarta

Kabar tentang pemakaman warga katolik yogyakarta tampaknya membuat gusar Alissa Wahid, anak Gusdur. Dia menuliskan kegelisahannya melalui akun twitternya.

Berikut isi twit putri Gusdur tersebut:

    • Kejadian pemakaman warga Katolik di Yogyakarta yang ramai hari ini membuahkan pertanyaan, sejauh mana nilai2 lama yang menjaga kebersamaan (inklusif) bergeser pada nilai-nilai baru yang menjaga kepentingan kelompok sendiri (eksklusif).
    • Pergeseran nilai2 akan selalu terjadi. Sedihnya, saat ini lebih bergeser ke arah mayoritarianisme: \”Karena kami mayoritas, maka yang berhak menentukan segalanya adalah kami. Minoritas harus menghormati mayoritas\”. Ini tidak hanya di Indonesia, dan tidak melekat pada 1 agama.
    • Intoleransi sudah bukan lagi kasus, tapi sudah menjadi norma. Intoleran kepada mereka yang beridentitas berbeda (suku, agama, pilihan capres, dll). Padahal seharusnya yang kita intoleransi adalah penindasan, ketidakadilan, perpecahan & hal2 buruk lainnya. Bukan orang.
    • Lepas dari soal bp. A, ada fakta2 ini: 1. Ketua RT dll katakan ini pemakaman UMUM yg akan dijadikan makam muslim. 2. Alasannya karena MAYORITAS penduduknya muslim 3. Dalihnya untuk menghindari KONFLIK Padahal ada hak SETIAP warganegara atas fasilitas umum.
    • Kuncinya ada di sikap inklusif atau eksklusif. Inklusif artinya kita merangkul orang2 dari kelompok berbeda dg mengingat KITA sebangsa. Eksklusif artinya me-MEREKA-kan orang yang berbeda dengan kelompok kita, dan meminta peraturan setempat disesuaikan dg kepentingan kita.
    • Dan soal makam di yogya ini bukan satu2nya kejadian mayoritarianisme dlm keseharian. Bu @RetnoListyarti pernah cerita ada sekolah umum yang menolak fasilitas umum sekolah seperti aula utk ibadah kelompok minoritas sekolah tersebut.
    • Juga ada tempat layanan publik milik Negara yang mensyaratkan pemakaian busana tertentu kalau perempuan ingin dilayani. Alasannya: menghormati Mayoritas. Padahal dalam konstitusi, tidak ada aturan diskriminatif begitu.
    • Selama kita perlakukan setia hal tersebut sebagai kasus per kasus, kita akan abai bahwa sedang terjadi perubahan masif yang terjadi dalam nilai2 keindonesiaan kita.

Berkaca dari Kegelisahan Alissa Wahid Tentang Pemakaman Warga Katolik Yogyakarta

Sejak negeri yang besar ini merdeka, Indonesia dibangun atas semangat kebersamaan. Tiang-tiang penyatunya adalah ragam suku, agama, dan berbagai latar belakang berbeda. Namun, bangunan besar itu akan goyah ketika ada suatu yang yang coba mementingkan kelompoknya sendiri. Begitu kiranya kegusaran putri gusdur tersebut.

Bukan rahasia lagi, ada banyak kasus yang menunjukkan kelompok mayoritas terus merongrong kelompok yang kecil, berupaya menguasai bahkan mengintimidasi. Padahal, antara kelompok yang besar dan kecil itu bisa hidup bersama dalam satu bangunan besar, di negeri tercinta kita.

Besar itu berbeda dengan merasa paling berhak atas bumi Indonesia. Jumlah warga NU besar, tapi NU meyakini Indonesia adalah Mu\’ahadah Wathaniyah (kesepakatan kebangsaan) dengan elemen2 bangsa non-NU. Makanya NU paling depan menolak yang ingin ubah falsafah bangsa. Aliisa Wahid.

Sikap tenggang rasa dan saling menghargai bisa pudar karena terjadinya pergeseran nilai kebersamaan. Siapa yang berbeda akan disikat dan ditindas. Padahal semua berdiri pada bumi yang sama, yaitu bumi nusantara atas aturan hukum dan konstitusi yang sama.

Kegusaran Alissa Wahid tentang pemakaman warga katolik bisa menimpa siapa saja. Bayangkan dalam kondisi yang sebaliknya, ketika di daerah lain justru Mayoritas di negeri ini menjadi minoritas di negeri lain. Apakah tega melihat mereka ditindas, seperti muslim Uighur di Cina dan Muslim Rohngya di Myanmar. Perihkan mendengar penderitaan mereka?

Lalu di negeri ini, ada saja kelompok tertentu yang berupaya menindas dan mengintimidasi kelompok yang lebih kecil. Mereka yang berasa besar atas saudara sebangsanya sendiri.

Foto diambil dari Twitter @AlissaWahid

Di Hari Hak Asasi Manusia, Jaringan @GUSDURians Indonesia menerima penghargaan Asia Democracy & Human Awards 2018 dari Taiwan Foundation Democracy.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close