Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Hiburan

Menonton Film Dilan 1991 dan Kekerasan di Dunia Pendidikan

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Anda sudah menonton Film Dilan 1991? Jangan, berat ah, mungkin Anda emang enggak punya uang atau memang enggak pernah nonton ke bioskop. Makanya, menolak penayangan film Dilan yang dirayakan begitu “Wow” di Kota Bandung. Bahkan sampai ada hari Dilan dan dibikin Pojok Dilan segala di Taman GOR Saparua.

Promo Film 1991 tampaknya dilakukan ger-geran, bayangkan saja sampai bioskop satu Kota Bandung menayangkannya dengan tiket cuma Rp10.000 saja. Duh kapan lagi nonton film murah meriah gitu.

Tetapi rupanya film yang kelanjutan dari FILM Dilan 1990 dengan jumlah penonton 6.414.986 orang ini rupanya menuai pro kontra. Ada yang bertanya Dilan itu siapa? Kok filmnya dirayakan se-Kota Bandung. Dipihak lain ada yang protes kok sampai di bikin Taman Dilan segala? Siapa Dilan itu? Lucunya ada yang membagikan postingan kalau film ini tidak mendidik dan berbau maksiat. Ah masa sih, nonton film maksiat kan gampang bisa lewat internet yang penting punya kuota. Enggak usah nonton film ke bioskop segala.

Salah satu kekhawatiran menonton film Dilan 1991 adalah bakal meningkatkan budaya kekerasan siswa di sekolah. Enggak kebayang kan melihat Guru BP seperti Soeripto dipukuli siswa di tengah lapangan sambil upacara. Tetapi, kekerasan di sekolah kan emang sudah tinggi dan jamak terjadi di Indonesia. Hayo Anda yang pernah jadi anak nakal di sekolah, pernah enggak berantem sama guru seperti Dilan di sekolah?

Baca juga: Merayakan Rilis Film Dilan 1991 Bersama Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla Di Bandung

Fakta Kekerasan Di Dunia Pendidikan Kayaknya Sudah Lama Terjadi Deh di Indonesia

Kalau Anda takut Film Dilan 1991 bakal meningkatkan kekerasan sekolah ya faktanya memang sudah tinggi kok. Jadi, berdasarkan data yang dirilis oleh KPAI tahun 2017 ternyata 84% siswa pernah mengalami kekerasan sekolah. Jadi 7 dari 10 siswa pernah merasakan kekerasan di dunia pendidikan.

Dibandingkan dengan negara lain, Angka kasus kekerasan sekolah di Indonesia masih menjadi jawara dibandingkan negera lain:

  • Indonesia: 84 persen.
  • Vietnam: 79 persen.
  • Nepal: 79 persen.
  • Kamboja: 73 persen.
  • Pakistan: 43 persen.

Tuhkan Indonesia di angka tertinggi. Data 84% yang dihimpun oleh KPAI tersebut merinci dengan kenyataan yang bikin elus-elus dada sebagai berikut:

  • 45% persen siswa laki-laki mengatakan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan.
  • 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya.
  • 75% siswa pernah melakukan kekerasan di sekolah.
  • 22% siswa perempuan menyatakan bahwa guru atau petugas sekolah adalah pelaku kekerasan.
  • 50% anak sekolah pernah mengalami perundungan (bullying) di sekolah.

Kekerasan di sekolah bisa dilakuan oleh guru dan juga siswa. Bentuk kekerasannya pun beragam, dari pemukulan guru, hukuman tak semestinya, perkelahian antar siswa, tawuran dan lain-lain. Jadi bentuk kekerasan sekolah itu beraneka ragam.

Lalu apa yang menjadi faktor kekerasan di lingkungan sekolah? Faktornya bisa dipengaruhi oleh anak yang kerap melihat perilaku kekerasan dari lingkungan luar sekolah dan kemampuan mengajar guru yang kurang bisa membuat suasana suasana belajar yang kreatif dan menyenangkan.

Pemahaman mengenai apa itu kekerasan yang tak sama antara guru, siswa, dan orang tua pun kerap kali menjadi persoalan dari kasus kekerasan di sekolah. Misalnya, guru menilai menghukum dengan memukul siswa adalah wajar. Sementara siswa dan orang tua menilai tidak wajar. Guru semestinya memahami kalau hukuman dengan kekerasan bukan cara yang baik dalam mendisipilinkan anak.

Ditambah, pihak sekelah kerap tak konsisten memberlakukan aturan yang berkaitan kekerasan sekolah. Sehingga, kekerasan demi kekeran lain yang dilakukan oleh guru, siswa bahkan orang tua terjadi berulang kali.

Persoalannya, kenapa kekerasan di dunia pendidikan sering terjadi, padahal lembaga sekolah fungsinya mendidik dan mengajar kok bisa melahirkan anak yang kurang ajar?

Kekerasan di Sekolah Bukan Karena Menonton Film Dilan 1991, Namun Dipengaruhi Pola Asuh di Lingkungan Keluarga

Apa faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan sekolah? KPAI menjelaskan bahwa kekerasan yang dilakukan siswa terhadap siswa lainnya maupun dengan guru karena dipengaruhi pola asuh di lingkungan keluarga. Anak-anak mencontoh model panutan yaitu orang tua dalam bertingkah laku. Anak meniru apa yang biasanya dilakukan oleh orang tuanya.

Pola asuh orang tua mempengaruhi tingkah laku anak di dunia luar rumah atau lingkungan keluarga. Pembentukan karakter utama anak-anak tetap dari cara mendidik yang diberikan oleh orang tua.

Nah, menariknya tidak sedikit orang mencari kambing hitam penyebab terjadinya kekerasan sekolah. Karena adegan film Dilan 1991 memunculkan adegan perkelahian dan kenakalan remaja. Lantas, menonton Film Dilan 1991 dituduh menjadi pendorong meningkatnya kekerasan di sekolah. Lah gimana sih, angka kekerasan sekolah kan memang sudah tinggi.

Pidie Baiq sendiri dalam beberapa wawancaranya bercerita kalau film yang diambil dari Novel yang ditulisnya sendiri menceritakan Bandung masa lalu. Bandung awal 1990an yang masih sejuk, berikut pergaulan remaja, dan lingkungan sekolahnya. Diceritakannya kalau geng motor sudah ada sejak lama berikut kenakalannya.

Baca juga: Cara Berhenti Jatuh Cinta dan Tidak Membiarkan diri Patah Hati Terlalu Lama

Tidak lupa juga dia ingin memberi tahu tentang kisah percintaan anak SMA masa itu. Film yang bisa menjadi nostalgia dan menjadi pelajaran bagi remaja sekarang. Kalau anak nakal sudah ada sejak dulu. Bahkan angkanya bukan main tingginya seiring dengan semakin edannya jaman.

Lebih edan lagi, orang yang baca bukunya enggak, menonton film Dilan 1991 belum, mengenal Bandung pun tidak, lalu bilang film Dilan 1991 unfaedah, penuh kemaksiatan, dan memicu adegan kekerasan sekolah. Atuhlah, yang betul aja, anak nakal mah udah ada sejak Tuhan menciptakan bumi. Ya syukurnya Tuhan baik baik. Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close