Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Edukasi

Lagi-Lagi Soal Kemerdekaan Pendidikan Anak-Anak di Pelosok Sukabumi

Waktu terus berlalu, negeri ini semakin bertambah usia, namun apakah panjang usia merdekanya negeri ini sejalan dengan kemerdekaan pendidikan anak-anak di pelosok Sukabumi?

Semoga saja begitu, tetapi kita harus membicarakan fakta betapa pendidikan di pelosok itu kondisinya berbeda dengan di perkotaan. Tahun demi tahun yang Sabumi Volunteer jalani memasuki kampung demi kampung di pelosok Sukabumi kondisinya tidak terlihat perubahan yang siginifikan.

Perbaikan akses jalan mungkin lebih memadai di beberapa kampung, ada bangunan sekolah yang sudah lebih baik, tetapi nasib kualitas pendidikan tidak berubah. Belum lagi kalau membahas, nasib guru honorer yang penuh keterbatasan. Ingin mendidik siswanya, tetapi harus bertarung dengan kenyataan, ada dapur yang harus terus diasapi di rumah.

Bagaimana mungkin memberikan pengetahuan kepada anak didik, tetapi nasib tak kian berubah. Ada pula guru honorer sudah miskin, harus mengajar jalan kaki, dan menghadapi kenyataan sekolah tak mempunyai fasilitas memadai.

Belajar dengan fasilitas seadanya dengan dinding bambu dan beratap langit pun ya pasrah saja.  Kunci utamanya, anak-anak di pelosok harus tetap sekolah apapun keadaanya.

Harapan Kemerdekaan Pendidikan Anak-Anak Pelosok di Tangan guru Honorer

Meski kerap berhadapan dengan masalah ekonomi keluarga, jalannya roda pendidikan pelosok mau tak mau ada di tangan para guru honorer. Para guru yang terus mau mengajar dengan keterbatasan.

Seperti yang dilakukan Pak Usep terus rela berjalan kaki selama satu jam pergi menuju sekolah untuk mengajar anak-anak di SDN di SDN Cirengrang, Desa Rambay, Kecamatan Tegal Buled, Sukabumi. Dari jejak kakinya itu, nasib pendidikan anak-anak di Cirengrang dipertaruhkan. Kalau hujan turun membuat jalan licin dan air sungai meluap, maka terpaksa dia tak bisa mengajar.

Sementara itu Pak Edwar terus mengajar anak-anak di SDN Kuta Luhur Kampung Cijangkar Desa Bantar Kalong Kecamatan Warung kiara Kab Sukabumi. Waktu itu, Sabumi Volunteer pernah datang ke Kuta Luhur dalam misi mendirikan rumah baca dan memperbaiki ruang kelas. Anak-anak di sana terbiasa belajar dengan ruang kelas yang tak memadai dan syukurnya di sana ada Pak Edwar sang pengajar yang mentrasnfer pengetahuannya kepada siswanya.

Baca juga :

Gerakan Berbagi Nasi Jumat dan Program Ayah Menjemput Anak ke Sekolah, Kenapa Tidak?

Fakta Sampah Plastik di Indonesia yang Sangat Mengejutkan, Apakah Anda Sudah Tahu?

Tidak jauh berbeda dengan Ibu Mae. Dia adalah penabuh terus terjaganya dunia pendidikan di Tanah manukur. Dia menjadi satu satunya guru yang mengajar enam kelas di dua ruangan dengan gajinya ya ala kadarnya.Anak yang menempuh pendidikan di sana bertempat tinggal jauh dari lokasi sekolah. Mereka harus berjalan jauh untuk bisa belajar.

Ketiga guru honorer tersebut menjadi contoh dari sekian banyak guru lainnya yang mengajar dengan segala keterbatasan di Pelosok Sukabumi. Meski lirih, tetapi niat mereka tak luruh. Mereka menjadi harapan bagi pendidikan anak-anak di sana. Guru honorer menjadi penjaga  menara Kemerdekaan pendidikan anak-anak pelosok di Sukabumi.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close