Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Edukasi

Ayah dan Bunda Jangan Biarkan Anak Menjadi Korban Bullying Atau Kekerasan di Sekolah

Kita sering mendengar anak menjadi korban bullying atau kekerasan di sekolah. Ada anak yang berani melaporkan kepada orang tua dan gurunya. Tetapi, tidak sedikit yang hanya diam karena takut menerima perlakuan kasar dari temannya atau malah dari gurunya terus menerus.

Bullying atau kekerasan pada pada anak bisa mencakup kekerasan secara psikologis yang biasanya dengan ejekan, sindiri, caci, dan maki. Ada pula kekeran fisik yang terjadi dengan pukulan, menendang, mendorong, menampar, membuat memar, menarik rambut, dan hal lain yang meninggalkan bekas pada tubuh anak.

Sekolah terkadang bukan menjadi tempat yang aman bagi perkembangan anak, karena ada saja teman yang usil dan guru yang memberi hukuman fisik terhadap siswa. Pernah merasakan enggak waktu sekolah dipukul, ditampar atau dijewer oleh guru?

Kasus bullying yang sering di sekolah seperti ejeken, memukul, dan mendorong temannya. Nah, kalau sudah begitu, orang tua harus khawatir, apabila anak menjadi korban kekerasan di sekolah.

Dampak Anak Menjadi Korban Bullying atau Kekerasan Pada Anak di Sekolah

Dampak yang paling terlihat kalau anak dipukul, ditendang, atau dibanting temannya. Maka akan meninggalkan memar, luka, berdarah, dan gangguan pada tubuh lainnya.

Sementara, bullying juga berpengaruh pada emosi anak, seperti merasa takut, tertekan, gelisah dan cemas. Anak menjadi enggan pergi ke sekolah karena berpikir akan mendapat perlakukan kasar dari teman atau gurunya.

Orang tua harus memberi pemahaman, kalau bullying tidak boleh dilakukan dan anak jangan sampai menjadi korban. Karena anak akan merasa kekerasan boleh saja dilakukan sebagai cara menyelesaikan suatu masalah.

Sebagai orang tua kita juga harus tahu, kenapa ya anak-anak bisa menjadi korban bullying atau kekerasan di sekolah.

Baca juga:

Angka Kemiskinan Di Jawa Barat Menurun?

Repot Enggak Sih Menyiapkan Perlengkapan Siswa Sekolah Alam?

Mengapa Anak-Anak Menjadi Korban Kekerasan?

Kejadian bullying yang terjadi diantara teman sekolah biasanya karena anak terlalu kecil atau malah kegemukan. Kondisi fisik si kecil dan si gemuk kerap menjadi korban dan sasaran bullying temannya.

Sedangkan, kekerasan yang terjadi dari guru sekolah dapat terjadi karena anak dirasa nakal dan suka melawan. Guru tak tahan melihat kelakukan si anak nakal dan memberikan hukuman fisik kepada siswanya.

Persoalannya, ketika guru dalam kondisi yang tak stabil melihat perangai anak anak akan membuat semakin naik darah. Jadi deh guru tak mampu mengelola emosi dan cenderung melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Lalu, Apa yang Dilakukan Kalau Mengetahui Anak Menjadi Korban Kekerasan

Jangan biarkan anak-anak menjadi korban kekerasan, meskipun bukan buah hati kita sendiri. Jauhkan anak dari sumber kekerasan dan pisahkan kalau terjadi perkelahian. Tindakan kekerasan tidak boleh dibiarkan.

Kalau anak terlanjut mendapat kekerasan fisik, maka orang dewasa atau orang tua sebaiknya bawa anak ke dokter. Periksa kondisi tubuh mereka. Apabila anak merasa ketakutan berlebihan, mungkin perlu dibawa ke psikolog untuk memulihkan kondisi mental mereka.

Beri tahu anak, kalau dia dalam kondisi aman dan tidak akan mendapat bullying lagi. Ajak anak bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia menjadi korban. Setelah itu, hiburlah anak agar dapat mengurangi rasa cemasnya.

Kalau kekerasan tidak berhenti dan terjadi terus menerus, laporkan kepada pihak kepolisian. Jangan ragu untuk bertindak atas tindakan yang tak sewajarnya dan membuat anak menjadi korban. Hentikan bullying dimana pun itu terjadi.

\r\n ‘, ”, ”, ‘inherit’, ‘closed’, ‘closed’, ”, ‘6706-revision-v1’, ”, ”, ‘2019-07-15 11:39:46’, ‘2019-07-15 04:39:46’, ”, 6706, ‘https://www.sabumiku.com/puisi-sabumi/6706-revision-v1/’, 0, ‘revision’, ”, 0),

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close