Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Edukasikabar indonesia

Jalan-Jalan Malam Ridwan Kamil yang Menemukan Bocah Mabok Aibon

Kalau Sabumiku.com || Kang Emil mempunyai program mencari anak putus sekolah, cari pulalah hingga pelosok Jawa Barat

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Anak-anak sudah semestinya sekolah, bukan menjadi bocah mabok aibon seperti yang ditemukan oleh Ridwan Kamil saat jalan-jalan malam hari.

Ridwan kamil bercerita sambil bersepeda malam menghibur anaknya Neng Zara, dia menemukan menemukan 3 anak kecil sedang duduk-duduk mabuk mengelem aibon. “Sedihnya”, tulis Kang Emil panggilan akrabnya.

Lalu, Kang Emil Pun berhenti dan mengajak anak-anak tersebut berbicara. Akhirnya, ditemukan jawaban tentang kedua anak tersebut.

Bocah Mabok Aibon, Putus Sekolah dan Nasib Anak-Anak Keluarga Miskin

Ridwan Kamil akhirnya memperoleh jawaban kalau anak-anak tersebut putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu. Selain itu, orang tua kurang diperhatikan orang tua, sehingga mereka bermain dan menggelandang di trotoar setiap hari.

Sang Gubernur pun mengajak anak-anak tersebut untuk masuk sekolah kembali. “Saya janjikan sekolah, baju, bukunya saya akan saya biayai,” tulis Kang Emil di fanpage pribadinya.

Dia menjelaskan pula bahwa Pemprov Jabar sudah 3 bulan, bersama relawan, sedang membentuk tim pencari anak-anak putus sekolah. Mereka bertugas menemukan anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah.

Anak-anak putus sekolah dari keluarga tidak mampu akan mengenyam pendidikan kembali dan biayanya ditanggung sepenuhnya oleh negara. Apa yang ditulis Kang Emil semestinya sudah menjadi kewajiban negara.

Hal tersebut sesuai dengan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (“UUD 1945”) yang berbunyi: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. 

Dikutip dari hukum online.com, konsekuensi dari Pasal 34 UUD 1945 tersebut adalah fakir miskin berhak menerima, antara lain: kecukupan sandang pangan, kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, pelayanan sosial, kehidupan lebih layak, dan meningkatkan kesejahteraan yang berkesinambungan.

Salah satu cara untuk keluar dari kondisi kemiskinan yaitu terbukanya ruang-ruang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Pemerintah pusat dan daerah memang bertanggung jawab terhadap nasib anak-anak dari keluarga miskin sesuai amanat UUD 1945.

Baca juga:

Kenapa Perempuan Mencintai Laki-Laki yang Lucu

Peringatan Bagi Kaum Perempuan Penyebar Hoaks, Hati-Hati Dengan Postingan Medsos Anda Atau Menjadi Tersangka

Jumlah Angka Putus Sekolah Masih Tinggi di Jawa Barat

Dikutip dari timesindonesia.co.id, Anak yang putus sekolah tingkat SD mencapai 5.627 siswa, SMP mencapai 9.621 siswa, SMA mencapai 5.403. Begitu pula, angka yang tinggi terjadi pada siswa SMK,  putus sekolah sebanyak 17.320 siswa.

Sehingga, Pemerintah Jawa Barat selayaknya peduli dengan kondisi pendidikan. Bukan hanya itu, persoalan kualitas sarana pendidikan, seperti bangunan sekolah, penyediaan alat pelajaran, dan sarana penunjang pembelajaran patut menjadi perhatian pemerintah daerah.

Selain jerat kemiskinan yang menghantui kondisi pendidikan, Sabumi Volunteer sering menemukan ketidakmampuan orang tua dalam menyediakan buku pelajaran sekolah dan peralatan belajar lainnya. Kalau Kang Emil mempunyai program mencari anak putus sekolah, cari pulalah hingga pelosok Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mungkin bisa bergerak lebih jauh untuk memperhatikan kondisi pendidikan hingga daerah pelosok.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close