Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Dunia Digital

Ketika Kimi Hime Klarifikasi Terkait Isu Konten Vulgar : Saya Tidak Membuat Konten Pornografi?

Akhirnya Kimi Hime membuat klarifikasi terkait isu konten vulgar yang kabarnya hingga dibahas pihak Komisi 1 DPR. Konten berjudul, “Dear Bapak Presiden Joko Widodo”.

Dia menceritakan telah dihubungi oleh pihak Youtube terkait protes pihak Kominfo atas Konten Kimi Hime. Lalu meceritakan tentang isi artikel berita online yang berisi tentang, “Konten Kimi Hime Dianggap Vulgar.”

Adapula berita yang mengatakan aduan kepada pihak DPR dari Asosiasi Pengawas Penyiaran Indonesia (APPI) terkait konten Kimi. Intinya banyak pemberitaan media online yang menyudutkan penampilan Kimi Hime saat bermain game online.

Selain itu, Akun Youtube Kimi Hime dianggap meresahkan karena penontonnya adalah kebanyakan anak-anak. Lalu bagaimana dengan faktanya, apakah penonton Kimi Hime memang kebanyakan anak-anak?\r\n

Terkiat Isu Konten Vulgar, Penonton Kimi Hime Nyata Kebanyakan Bukan Anak-Anak

\r\nKimi Hime pun menjelaskan statistik penonton akun youtube miliknya. Pada kenyataannya, sebagian besar penonton Kimi Hime bukan anak-anak, Ada pun persentase penonton Kimi Hime adalah:

  • 13-17 tahun = 16 persen
  • 18-24 tahun = 50 persen
  • 25-34 tahun = 24 persen
  • 35-44 tahun = 6,6 persen
  • 45-54 tahun = 2,2 persen
  • 44-64 tahun = 0.5 persen
  • 65 +             = 1,1 persen

Dari statistik tersebut, Kimi Hime berhasil membuktikan penonton anak-anak hanya 16 persen. Pernyataan kalau meresahkan buat anak-anak tidak terbukti. Orang dewasa yang malah menjadi penonton sebagian besar konten Kimi.

Dijelaskan pula kalau rating games PUBG adalah 17 tahun ke atas. Jadi konten games tersebut memang bukan anak-anak. Nah, kalau anak-anak sampai menonton konten tersebut ya mungkin para orang yang tak mampu mengawasi buah hatinya. Anak-anak kok dibiarin nonton youtube kan banyak konten dewasanya.

Maka dari itu, kalau ada orang tua yang was-was menonton youtube Kimi, jangan ragu-jangan bimbang ada banyak konten kreator yang menyuguhkan konten jauh lebih seksi. Oleh sebab itu, awasi anak-anak saat menggunakan handphone dan larang membuka youtube. Kan sudah ada Youtube Kids buat anak-anak.

Orang tua harus mengawasi perilaku anak-anaknya dan awasi apa yang ditonton di youtube oleh anak-anak. Bukan menyalahkan pembuat konten. Permintaan blokir itu memang bukan solusi seperti yang dikatakan Kimi.\r\n

Pemerintah Harus Bijak Membuat Keputusan Kepada Konten Kreator

\r\nKimi Hime sendiri menyebutkan kalau dia tidak memiliki risiko penutupan channel, karena tidak melanggar guidelines. Channel-nya masih aman dan tidak pernah terjadi pelanggaran atas akun miliknya.

Meski begitu, tiga konten miliknya sudah tidak bisa dilihat di Indonesia dan hanya bisa dibuka di luar negeri. Karena ada komplain dari Pemerintah. Kimi mengaku klikbait tetapi tidak ada unsur pelanggaran pornografi di dalamnya.

Lebih jauh lagi, Kimi Hime meminta apa peraturannya yang dilanggar. Jangan cuma menghukum gara-gara asumsi semata. Dari pendapat Kimi, Pemerintah selayaknya menjelaskan aturan yang dilakukan oleh dirinya. Kalaupun ada aturan yang dilanggar, maka harus berlaku bagi semua konten kreator.

Baca juga :

CIUM TANGAN PERGI SEKOLAH ITU BIASA, ANAK TIBA-TIBA BISA MENCUCI PIRING SENDIRI ITU KAN LUAR BIASA

GARA-GARA BENANG GELASAN LAYANGAN SEORANG ANAK HARUS MERASAKAN 17 JAHITAN DI MUKANYA

Sekali Lagi, Blokir Bukan Solusi

\r\nKonten kreator yang pernah bermasalah bukan Kimi saja, ada konten kreator lain seperti AwKarin dan Anya Geraldine. Mereka perempuan muda yang kreatif di dunia youtube, walaupun sempat menuai perdebatan dari netizen terkait konten. Menariknya, konten kreator laki-laki yang membuat video vulgar belum pernah dipanggil.

Pemblokiran konten tentunya bukan solusi. Anak-anak muda kreatif akan terus muncul dan berganti. Satu orang dianggap bermasalah, maka akan ada anak muda lainnya dinilai bermasalah lagi pada masa depan.

Maka, jelaskan kepada konten kreator letak kesalahan mereka berdasarkan fakta dan aturan yang dilanggar. Mengeluarkan pendepat di media online pun toh malah membuat isu semakin melebar, seolah si pemilik konten benar-benar berbuat vulgar.

Jangan sampai pula, anak-anak muda pembuat video youtube di Indonesia menjadi takut dan enggan berkreasi lagi. Karena takut akunnya diblokir atas pemintaan dari Pemerintah.

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close