Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Budaya Indonesia

Kampung Kasepuhan Ciptagelar: Wujud Kampung yang Tercipta dari wangsit dan Kepatuhan Kepada Para Karuhun

Kampung Kasepuhan Ciptagelar adalah wilayah perkampungan yang ditinggali masyarakat hukum adat yang berdiri atas wangsit yang diterima dari para karuhun (leluhur). Berdasarkan catatan dari situs ciptagelar.info, Kasepuhan Adat Ciptagelar awalnya berdiri pada tahun 1368.

Kampung adat ini telah beberapa melakukan perubahan kepemimpinan dan perpindahan desa pusat kepemerintahan mengikuti wangsit para leluhur yang dipatuhi secara turun temurun. Ciptagelar memiliki arti terbuka atau pasrah. Wangsit dari karuhun merupakan wujud dari kepatuhan yang diperoleh oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual. Hasil dari ritual tersebut harus dilakukan dan tidak boleh ditolak.

Masyarakat di Kampung Ciptagelar memiliki sebutan masyarakat kasepuhan. Kata Kasepuhan adalah kata dalam bahasa Sunda yang dapat diartikan tempat tinggal para sesepuh. Kasepuhan juga merupakan bentuk dari model sistem kepemimpinan suatu masyarakat yang bedasarkan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot).

Perintah Karuhun yang Membuat Kampung Ciptarasa berubah Menjadi Kampung Ciptagelar

Kampung Ciptagelar. Foto: Zgehh Passmi
Kampung Ciptagelar. Foto: Zgehh Passmi

Sebelumnya masyarakat Kampung Ciptagelar menetap di Kampung Sirnarasa. Pada bulan Juli tahun 2001, masyarakat melakukan perpindahan dengan jarak belasan kilometer ke Kampung Sukamulya. Sejak saat itu, Kampung yang awalnya bernama Ciptarasa mengubah nama menjadi Kampung Kasepuhan Ciptagelar.

Penamaan Ciptagelar diberikan oleh Abah Anom atau Bapak Encup Sucipta. Beliau adalah Pemimpin puncak kampung adat yang menerima perintah karuhun setelah melalui proses ritual. Perpindahan tersebut bukan melakukan pengalihan tempat tinggal semata. Melainkan, wujud kesetiaan dan kepatuhan masyarakat kepada leluhur

Kasepuhan Ciptagelar merupakan wilayah bagian dari Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dari data tahun 2008, Kasepuhan Ciptagelar memiliki penduduk sekitar 293 orang. Ada 84 kepala keluarga dengan rician terdiri dari 151 orang laki-laki dan 142 orang perempuan.

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Mereka menetap tersebar di sekita lebih dari 500 desa di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Di wilayah tersebut terdapat Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Sirnaresmi, Kasepuhan Ciptamulya, Kasepuhan Cibedug, dan lainnya.

Tetapi tempat yang menjadi rujukan ‚ÄúPusat Kepemerintahan” adalah Kampung Gede. Penghuninya adalah Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang) dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sangat memegang teguh adat dan tradisi yang berasaskan budaya pertanian, khususnya padi. Kegiatan pertanian yang mengakar dilakukan oleh masyarkat, seperti ngaseuk, mipit, nganyaran, serentaun, dan lainnya. Adapula kegiatan kesenian dan kebudayaan, antara lain: Angklung Buhun, Wayang Golek, dan Jipeng yang terus dipertahankan hingga saat ini.

Sumber tulisan:

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/

Infromasi Budaya Lokal Menarik Lainnya: Kemenparekraf Dukung Saba Budaya Baduy di Desa Kanekes

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close