Baca Buku

Jejak Sejarah Pagebluk Pes di Ujung Hidung

Jejak sejarah pagebluk pes pernah terjadi pada masa kolonial Hindia Belanda bahkan membuat karantina di sejumlah wilayah. Tahun 1830, lima tahun berhadapan dengan Diponegoro, Belanda tekor 20 juta gulden situasi ini menyeret mereka ke dalam jurang pailit. Kerajaan memutar otak untuk mencari tambalan kas kerajaan. Gubernur Jendral Van des Bosch muncul dengan gagasan Cultursteel atau Tanam Paksa. Titahnya, rakyat menanam tanaman produksi berorientasi ekspor secara besar-besaran. Mengubah lahan tidur menjadi lahan produktif perkebunan, dan pelan-pelan meninggalkan sawah. Penentangnya diberi pajak yang besar, bagi rakyat yang tidak memiliki lahan, mereka wajib bekerja di pabrik milik pemerintah, bila kabur dan tertangkap, sanksi tambahan menanti.

Tuntutan kolonial agar menggenjot ekspor diwartakan melalui para bupatinya, dan  pemilik lahan, hal tersebut diperparah karena darah feodal jawa yang masih kental. Karena kawula hakikatnya menurut pada titah rajanya. Selama rentang sepuluh tahun ekspor kopi Hindia Belanda meningkat 14%, satu Onderneming atau perkebunan kopi di Malang mampu menyetorkan hampir 57000 pikul kopi.

Hulunya lahan pertanian menjadi tak terurus, tempo beleid tanam paksa yang langggeng membuat jawa sampai pada masa paceklik beras. Karena bekerja perlu makan, Pemerintah Kolonial pada  tahun 1910 megimpor beras, dan terus menunggak setiap bulannya. Beras-beras ini datang dari Myanmar, Cina, dan India, menumpang kapal laut berbulan-bulan sampai ke Surabaya.

Ekpor Beras dan Awal Mula Wabah Jejak Sejarah Pagebluk Pes di Hindia Belanda

Sekilas, mari kita mengintip keadaan negara pengekspor beras ke Hindia Belanda, Myanmar. Pada rentang waktu 1910, Myanmar masih dikuasai Inggris dengan nama British Burma, sebagai perpanjangan tangan imperialis British India. Pada awal 1899, imperalis Inggris menetapkan karantina sejumlah wilayah India, karena bayangan hantu eropa abad 14 kembali datang, black death. Sayangnya hal tersebut tidak dilakukan di tanah British Burma.

Beras-beras yang berasal gudang British India, dan Burma, berangkat menumpang kapal-kapal uap selama berbulan-bulan melewati lautan. Salah satunya berlabuh di Surabaya, dan melanjutkan perjalanannya ke wilayah yang butuh makan, Malang. Sayangnya, tidak hanya beras yang menumpang sampai ke Hindia Belanda, namun juga penumpang gelap kapal, tikus bersama kutu-kutunya. Dua penumpang terakhir merupakan manifestasi black death.

Setelah berbulan-bulan di lautan, beras tersebut akhirnya mampir dii Gudang Surabaya untuk transit menuju Malang. Sialnya, dalam perjalanan menuju Malang, terjadi hujan lebat yang mengakibatkan longsor dibeberapa jalur kereta. Sehingga banyak karung beras yang harus numpang sebentar di gudang kota Turen, Malang. Tikus sang penumpang gelap ini kemudian mencari jalan keluar, bertemu atau bahkan kawin dengan tikus lokal, saat berada di dalam gudang. Siklusnya terus berlanjut saat berada di Malang.

Bakteri pembawa pes yang kemudian disebut Yestisia Pestis berdampak dapat merusak kelenjar getah bening inangnya. Aksinya menimbulkan bercak hitam, kelelahan, menginfeksi otak hingga berujung pada kematian. Kutu-kutu ini hidup dalam binatang pengerat, salah satunya tikus. Kontak manusia dengan tikus pembawa bakteri bisa terjadi saat kutu tersebut menggigit kulit manusia, dan masuk ke tubuh penderita melalui kerongkongan si kutu.

Catatan Kolonial merekam pes pertama terjadi di Sumatera Utara, dua orang Tionghoa dari perkebunan Tebu. Pemerintah Kolonial belum berpikir melakukan karantina dan tidak menjadikannya masalah besar. Cuaca sejuk Malang membuat kutu-kutu  mudah berpindah dan hidup lama pada tikus lokal, bahkan kutu-kutu tersebut bisa bertahan di tanah yang menjadi lantai rumah sebagian besar warga Malang.  Tidak ada catatan mengenai siapa pasien nomor 1 wabah pes Hinda Belanda. Musababnya baru pada bulan Maret 1911, contoh darah pasien malaria (pada awalnya) dikirim ke Batavia, dan positif pes. Pes membunuh sepertiga populasi eropa, dan Pemerintah Kolonial masih keukeuh berpendapat pasien tersebut mengidap malaria. Walau Maret ditahun sebelumnya sudah banyak warga Malang yang tewas karena malaria (baca: pes).

Usai sample darah yang dikirim positif pes, Kolonial Belanda mulai melihat potret satu frame orang terjangkit wabah. Keluhan dan gejala pes mulai terdengar dan orang-orang mulai panik.  Korban tewas dicatat diam-diam oleh pemerintah untuk menjauhkan kesan negatif soal negara jajahannya yang tak terurus. Meskipun begitu beberapa koran lokal Surabaya dan Malang, mencatat angka mencengangkan, 2000 korban berjatuhan sepanjang 1911-1912. Pemerintah kemudian menetapkan karantina, setiap perbatasam desa dijaga oleh militer, dan polisi. Setiap warga tidak boleh lagi masuk atau keluar desanya.

Jumlah korban terus membengkak, dan tanah kubur mulai penuh, keadaan ini diperparah karena tidak ada kepedulian dari dokter-dokter Eropa dan Belanda yang mau terjun ke Malang. Bisa dimengerti bahwa pada masa itu, kulit putih memang adalah bagian golongan kelas atas. Selain itu trauma pes pada abad ke-14 di Eropa, membuat dokter Belanda takut ke Malang menyelesaikan masalah yang diakibatkan bos-bos mereka. Beberapa desas-desus lainnya mendengungkan berita bahwa pemerintah membayar murah jasa dokter yang terjun ke lapangan. Hal tersebut tidak merubah tabiat kolonial, walau terjadi kasus seluruh warga kampung habis ditelan pes.

Iklan dan anjuran untuk mengajak para tenaga medis membantu pemerintah Kolonial sampai ke telinga Dokter Tjipto Mangunkusumo. Beliau terjun atas panggilan kemanuisannya, hingga beliau mengangkat seorang anak perempuan yang ditinggal mati orang tuanya karena pes. Pemerintah Kolonila memberikan Medali Orange van Nassau atas keikhlasannya terjun ke Malang. Namun medali tersebut diambil kembali, karena niatnya memberantas wabah pes yang terjadi di Solo pada tahun 1912. Tidak ada angka yang pasti mengenai jumlah korban pes sepanjang wabah gelombang Pertama di Malang. Maklum Amsterdam tidak boleh tahu ketidakbecusan anak buahnya mengurus negara jajahan.

Masa Gelombang Kedua Pagebluk Pes di Tanah Jawa

Gelombang kedua jejak sejarah pagebluk pes terjadi di Jogjakarta, Jawa Tengah hingga ke Cirebon Jawa Barat dalam rentan waktu 1912-1914.  Wabah ini membangunkan sensitivitas mistik orang jawa. Orang Jawa, percaya bahwa wabah ini adalah malapetakan gusti atas rakyatnya, pagebluk. Kata Pagebluk dari berbagai kultur bahasa di tanah jawa artinya tersungkur, jatuh, bluk!.

Ringkasnya, orang jawa merasa bahwa mereka sedang terpuruk.  Suasana waktu Raja Amangkurat 1 mangkat kembali meniupi nafas orang Jawa. Penjahat makin banyak, pengemis ditiap pinggir jalan, berita kematian yang tidak berhenti, dan susah makan. Istilah abad ke-14 yang digunakan menggambarkan keterpurukan terdengar kembali. Setiap orang, sekarang bicara Pagi Sakit, Sore Mati.

Bagi orang jawa, pagebluk bisa dilawan salah satunya dengan membuat tumpeng sebagai wujud persembahan, sembari meminta sokongan moril warga kampung. Pengobatan bukannya tidak dilakukan, namun dengan cara yang tradisionil. Mereka yang sakit ditidurkan di atas dipan, diasapi dari bawah menggunakan kemenyan, dan diminumi ramuan herbal yang mereka sebut jamu. Sesudahnya, jampi, dan mantra tidak putus diucapkan oleh cuwuk. Kerabat tabib Tionghoa diperbantukan untuk membuat ramuan tokcer, namun sulit. Beberapa yang pasrah membersihkan diri melalui mandi minyak tanah, air kembang, dan atas perintah tetua kampung.

Peringatan soal kebersihan disuarakan melalui wayang, cerita leluhur seperti calonarang, dan lain-lain. Intinya, optimisme tetap harus ditanamkan bagi mereka yang sakit, dan buat yang sehat, untuk berkelakuan bersih. Perlu diingat, masuknya Islam tidak kemudian menganggap hal-hal diatas adalah kesesatan. Kegiatan tersebut dipandang sebagai bentuk ikhtiar, selain doa dan shalat tentunya. Soal sembuh dan tidak dari pagebluk pes, cerita lain. Sayangnya soal-soal temeh ini menjadi masalah di seratus tahun kemudian, masa kini.

Selain mengandangi (baca:karantina) kampung, Pemerintah Kolonial kemudian mengambil langkah membenahi kampung. Semua rumah penderita pes dibongkar, bambu-bambu sarang tikus dibakar, semua jenis tikus diburu, dibunuh dan bangkainya dibakar. Lantai tanah mulai dialasi rotan, comberan diperbaiki, dan kota mulai dibenahi. Maklum, Belanda perlu uang, dan uang tidak mungkin datang kalau orang yang kerja pada mati.

Jejak sejarah pagebluk pes menemui titik terangnya saat dokter sekaligus pemain sepak bola yang tinggal di Bandung menemukan vaksin penangkalnya. Kreasi Louis Otten ini dititahkan kepada petugas medis untuk disuntikan kepada semua penduduk jawa di kampung-kampung Hindia Belanda. Orang-orang kulit putih sekali lagi mendapatkan panggungnya, walau sebenarnya itu adalah kewajiban penguasa. Baru pada 1950 an pes reda, pagebluk rampung.

Bagaimana dengan sekarang? Jumlah korban mulai menanjak ke angka delapan ribu yang tercatat tentunya. Penduduk dianjurkan untuk berdiam di rumah, siswa, karyawan semuanya di rumah. Tetapi jalan toh masih ramai, motor dan mobil melintas selama memenuhi syarat.  Masalah jadi ruwet bagi mereka yang harus dirumah. Bantuan sosial tidak merata, pertanyaan hantu PHK dijawab Omnibus Law,  lalu kita diselingii prakiraaan ekonomi dunia merosot.

Kekhawatiran warga dijawab lima menit anjuran Presiden di TVRI, untuk selalu cuci tangan selama 20 detik. Namun gejala aksi pemerintah yang membuat kawulanya takut. Penulis tidak meragukan keseriusan pemerintah menangani wabah Corona, tapi melihat tabiat penguasa, rasanya kita dituntun menuju pagebluk, bluk. Pelan-pelan tapi pasti. Namun harapan harus ada, karena semuanya belum selesai.

Baca juga : Bagaimana Virus Corona Menyerang Tubuh Kita?

 

Kontributor : Dalfina

Editor : Mas Toed

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *