Cultural Diversity Ciletuh Geopark : Bukti Kekayaan Budaya Masyarakat Sukabumi

Peta Ciletuh Geopark

Cultural Diversity Ciletuh Geopark menjadi satu kunci pengembangan Ciletuh Geopark yang sangat penting untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Sukabumi.

Nilai budaya tanpa bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat di sana yang bermanfaat untuk pengembangan kawasan wisata disana.

Daerah sekitar Jampang dan daerah Palabuhanratu sudah dikenal dengan keragaman budaya dan nilai sejarah yang tidak dapat dipisahkan dan dapat menunjang program pemerintah dalam menjadikan Kawasan Ciletuh Geopark sebagai tujuan wisata unggulan di Sukabumi dan Jawa Barat.

Maka dari itu, cultural diversity Ciletuh Geopark selayaknya menjadi bagian yang harus diperhatikan selain kekayaan alam berupa pantai, air terjun, dan potensi wisata lainnya.

Baca juga : Permainan Tradisional Engklek atau Sondah, Bermain Gembira Bersama Teman-Teman

Situs Sejarah dan Budaya Menjadi Cultural Diversity Ciletuh Geopark yang Diunggulkan

Leuit Di Beberapa Kampung Kawasan Ciletuh, Sukabumi. Sumber : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org
Leuit Di Beberapa Kampung Kawasan Ciletuh, Sukabumi. Sumber : ciletuhpalabuhanratugeopark.org

Ciletuh berasal dari bahasa Sunda,yaitu “Ci” artyinya air dan “Leeteuk dan Kiruh” sungai berlumpur. Jadi Ciletuh bisa diartikan air berlumpur. Sungai Ciletuh hulu terletak di desa Ciletuh di Kecamatan Jampang Kulon.

Saat ini, nama Ciletuh menjadi nama formasi batuan geologi di Sukabumi, Jawa Barat. 

Pada masa lalu, Kawasan Ciletuh merupakan bagian dari wilayah Kasepuhan Banten Selatan. Hal tersebut dapat dibuktikan ditemukan “leuit-leuit” atau rumah khusus yang terbuat dari kayu dan bambu sebagai penyimpanan padi tradisional.

Daerah yang tampak masih berdiri leuit berada di desa desa Lamping Girimukti, makam Mbah Durak di desa Mekarjaya, dan kampung Cipondok di Desa Waluran.

Sehingga, ketiga kawasan harus dilestarikan sebagai desa adat masyarakat leluhur Ciletuh.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Sukabumi selatan menjadi kawasan perkebunan teh dan kelapa. Kebun teh peninggalan Belanda masih dapat dilihat di pabrik teh Bojongasih di Ciemas. Sedangkan perkebunan kelapa  berada di Kabupaten Ciracap.

Kerajinan dan Makanan Tradisional Menjadi Pendukung Pariwisata di Ciletuh

KAMPUNG BATIK PAKIDULAN: Desa Purwasedar Kec.Cicarap Sukabumi, Foto Hidayat Asep
KAMPUNG BATIK PAKIDULAN: Desa Purwasedar Kec.Cicarap Sukabumi. Foto: Hidayat Asep

Nilai keanekaragaman budaya juga dapat dilihat dari kerajinan masyarakat kawasan Ciletuh. Produk kerajinan telah dibuat dari anyaman bambu, antara lain kipas, keranjang, nampan, wayang golék, gerabah, seruling, dan batik pakidulan.

Batik dikenalkan kepada masyarakat sebagai produk baru di kawasan Ciletuh Geopark. Para pengrajin di kampung batik desa Purwasedar mengembangkan motif terinsipirasi dari situs geologi. Motif batik ini dikenal sebagai “Batik Pakidulan”.

Baca juga : 3+ Bisnis Artis Luna Maya dari Kuliner Martabak Hingga Dunia Fashion

Tradisi dan Seni Menjadi Bagian Tidak Terpisahkan dari Kehidupan Masyarakat Ciletuh

Pencak Silat Macan Tutul. Ciletuh Geopark. Foto: Hidayat Asep.
Pencak Silat Macan Tutul. Ciletuh Geopark. Foto: Hidayat Asep.

Penyelenggaraan upacara adat, pertunjukan keseniaan, dan seni beladiri menjadi agenda kegiatan tahunan di Kawasan Ciletuh Geoprak. Jenis tradisi ini menjadi cultural diversity Ciletuh Geopark yang harus tetap lestarikan.

Kehidupan tradisi masyarakat masih lekat dengan cara bertani (tatanen) dan hajat laut. Dari keseniaannya berupa cerita rakyat, permaninan rakya, seni musik, dan tari tradisional.

Tata cara menanam padi yang disebut tatanen tetap bertahan dan dipengaruhi oleh adat Kasepuhan Ciptagelar. Para petani masih menggunakan aturan  pemilihan jenis padi , upacara menanam, dan memanen padi.

ciptagelar Upacara Panen Padi Masyarakat Ciptagelar, Ciletuh Geopark. Foto: Hiang Jemy Dewataprana
Upacara Panen Padi Masyarakat Ciptagelar, Ciletuh Geopark. Foto: Hiang Jemy Dewataprana

Sedangkan, upacara Pesta Laut atau disebut “Hajat Laut” dilaksanakan di pantai selatan. Upacara tradisional masyarakat nelayan pantai sebagai simbol  rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah dan Harapan keselamatan bagi nelayan.

Kesenian yang dipertujukkan dalam upacara hajat laut, festival Ciletuh atau upacara hari besar nasional, antara lain: Gondang, Buncis. Tidak ketinggalan penampilan Angklung Geblug, Reog, Calung, Gendang Penca, Degung, Badawang, Kuda Lumping, Wayang Golek, serta seni beladiri Pencak Silat.

Mitos dan cerita rakyat pun menjadi cultural diversity Ciletuh Geopark yang terus lestari bersama kehidupan masyarakat. Cerita legenda tentang keberadaan curug dan pantai selalau menarik untuk didengarkan dari masyarakat

Mitos keberadaan Ratu Nyi Roro Kidul sebagai ratu penjaga pantai selatan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kekayaan objek wisata Kawasan geopark Ciletuh.

Cultural Diversity Ciletuh Geopak dapat Menarik Minat Kunjuangan para Wisatawan

Pengembangan pariwisata tidak hanya dalam bentuk fisik destinasi wisata saja. Cerita budaya, sejarah, tradisi, seni, bisa menjadi daya tarik untuk menarik kedatangan para wisatawan.

Apalagi kalau semua kekayaan budaya tersebut menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di Kawasan Ciletuh.

Kalau semua cultural diversity Ciletuh Geopark tersebut dikelola dengan baik, tentu saja masyarakat juga dapat diuntungkan dalam pengembangan kawasan wisata Ciletuh Geopark sebagai tujuan wisata unggulan di Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *